Halaman

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu (benar-benar)di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh. Dan berpesan-pesanlah kamu (wahai manusia) dengan kebenaran, dan berpesan-pesanlah kamu dengan kesabaran".


Al-Asr : 1-3

Aku hanya peguam biasa-biasa, tetapi punya cerita luar biasa.. kerana, kamu mungkin tak bisa rasa, apa yang aku rasa...

Rabu, 25 Mac 2009

Idea mencurah - Menunggu..

Saya mendapat artikel ini yang dipanjangkan melalui emel oleh sahabat saya dari Indonesia . Sebab seronok membacanya, saya nak kongsikan dengan pengunjung yang menziarahi blog saya. Saya membuat sedikit pindaan supaya lebih mudah untuk memahaminya.

Menunggu merupakan salah satu aktiviti kita yang hampir-hampir tidak bisa kita hindari, misalnya saja: menunggu bas datang, menunggu giliran membayar saman trafik, menunggu suami dan anak-anak pulang, menunggu hari dapat gaji, menunggu masuk waktu Solat dan berbuka, menunggu doa kita dikabulkan, etc.

Kegiatan menunggu ini, hampir banyak orang tidak suka untuk melakukannya. Hal ini disebabkan sebahagian orang menganggap aktiviti menunggu adalah hal yang membuang-buang waktu dan membosankan. Sebaliknya, dalam kita menunggu, sebenarnya kita dapat menemukan karakter lain kita sebagai manusia, yang kurang sabar, yang tak putus asa (tak mau berhenti menunggu), yang tidak merasa puas (walaupun dah lama menunggu), yang ingin melampaui diri (nak yang lebih daripada keupayaan kita). Orang menyebutnya transendensi (istilah latin, trans: melalui, melewati, melampaui : duduk --> melampaui kedudukan atau keberadaan kita).

Dalam menunggu, kita pun bisa menemukan hasrat terdalam hidup kita: hasrat akan yang lain, perjumpaan dengan yang lain...Kita menunggu sesuatu seperti menunggu seseorang yang sebentar lagi akan membawa kita ke sebuah kenyataan lain daripada kenyatan yang sedang sekarang kita rasakan. Jika anda pernah jatuh cinta pada pandangan pertama pada seseorang, perasaan itu paling kurang menumbuhkan kerinduan mendasar untuk bertemu atau minimal melihatnya lagi.
Ada yang mengatakan bahwa kita hidup dalam generasi microwave. Di hari dan zaman ini, kita mendapatkan hal-hal sekarang lebih cepat dari yang pernah ada, namun itu masih belum cukup baik, tidak cukup cepat untuk pilihan cepat kita. Popcorn masih memerlukan waktu lama untuk meletus.Makanan- makanan dalam kuali memerlukan waktu lama untuk menjadi panas.Kita menikah dan mengharapkan memiliki hal yang sama yang dipunyai pada orang tua kita setelah dua puluh lima tahun perkawinan! Mobil baru, rumah yang bagus, tambahan wang belanja. Hal-hal ini semua memerlukan waktu untuk memperolehnya, namun rasa terburu-buru kita, kita menjadi tidak sabar. Kita ingin sesuatu sekarang, dan kita tidak mau menunggu.

Menunggu itu suatu pekerjaan yang mengagumkan, karena itulah bentuk usaha tertinggi yang bisa dilakukan manusia. Sedarkah bahwa seluruh dari kita ini tak lebih adalah kaum penunggu. Kita ini memang sedang menunggu. Kita juga sedang menunggu saat-saat kematian itu datang pada kita. Dan kita tak pernah tau kapan saat itu datang pada kita. Maka di dalam caramu menunggu itulah terletak martabat hidupmu. Berbuat amal kebaikan itu yang mesti kita lakukan dalam menunggu.

Coba kalian perhatikan pemandu teksi menunggu penumpangnya, peniaga-peniaga menunggu pelanggannya. Pedagang-pedagang di pasar tradisional, pekerjaan mereka setiap hari juga menunggu. Tentunya mereka sedang menunggu para pembeli dagangan mereka. Aku pernah amati pedagang sayuran di sebuah pasar, seorang nenek tua yang masih giat bekerja, nenek yang tak pernah merasa lelah menunggu.

Tak ada kegiatan yang paling membosankan selain menunggu. Padahal, hidup adalah kegiatan menunggu. Orang tua menunggu tumbuh kembang anak-anaknya. Rakyat menunggu kebijakan pemerintahnya. Para gadis menunggu jodohnya. Pegawai menunggu akhir bulannya. Semua menunggu.Nikmatilah ! Insya Allah, menunggu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan, yang bisa memacu addrenalin anda bekerja lebih cepat, rasakan nikmatnya dalam sebuah penantian. Tapi menunggulah dan berikan batas waktu untuk sesuatu yang anda tunggu. Yang penting, tunggulah ketibaan hari yang dijanjikan Allah.. Tentunya kita perlu bersedia.. Mehlah sama-sama terus kan menunggu.. Mudah-mudahan dalam kita menunggu, kita mempersiapkan diri kita dengan bekalan untuk saat-saat kematian dan hari kiamat yang ditunggu-tunggu..

Diedit semula oleh:

Nurhani
Shah Alam
Malaysia

4 ulasan:

Leenoh berkata...

Salam Hani.
Kekadang menunggu dan menanti itu menyiksakan. kekadang menyeronokkan. Dalam penungguan agung terdapat penungguan kecil-kecilan seperti yang disenaraikan, penungguan kecilan inlah yang meredakan buat sementara terhadap kebimbangan penungguan agung, penungguan kecilan juga memberi kesempatan memperbaiki diri sementara tibanya penungguan agung.
Betapa beruntungnya manusia kerana diberi peluang ketika penungguan agung itu dengan penungguan kecil-kecilan, jangan terlalu risau dengan penungguan kecilan sekiranya ada sesuatu yang belum beres kerana penungguan agung lebih penting, Insya Allah di sana ada kelebihan untuk kita.
Bila penungguan agung telah beres maka bereslah tugas kita di dunia ini dan bawalah hasilnya untuk dinilai.
Berakhirnya penungguan agung dikatakan amat menyiksakan.
Semoga penantian yang kecil-kecilan itu akan berhasil dengan baik. Insya Allah.

Nurhani Salwa Binti Jamaluddin berkata...

Salam Pak Ngah,

Yup. Setuju dengan sifu.. Saya akan terus menunggu sampai hari yang ditunggu tiba.. :)

Ibnurashidi berkata...

Salam Tuan Rumah..

Sebenarnya saya sudah pun mengaddkan link ni ke blog saya tempohari.

Ya, perkara menunggu itu terkadang meletihkan. Tetapi bersabarlah, penantian itu ada hikmahnya Insya'Allah.

hani berkata...

Salam Ibnu Rashidi,

Betullah.. Letih menunggu, tapi kalau hasilnya berbaloi, hilang rasa letih, yang tinggal gembira dan senang hati..:)